Konsep Sosialisme Ala Islam Menurut Tjokroaminoto

Konsep Sosialisme Ala Islam Menurut Tjokroaminoto

Oleh : Muhammad Anugrah Noor Fadhilsyah

Kolonialisme merupakan praktik yang menyebabkan para masyarakat menjadi tersiksa, tidak adanya keadilan tiap individu, kesenjangan sosial, ketidaksetaraan, dan sebagainya. Dan H.O.S Tjokroaminoto muncul sebagai manusia yang peduli dengan permasalahan yang terjadi pada zaman itu dan menentang kapital-imperialisme yang dilakukan oleh Belanda pada saat itu.

Biografi Tjokroaminoto

Raden Mas Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, seorang guru bagi tokoh-tokoh terkenal seperti Soekarno, Kartosoewiryo, dan Muso, adalah tokoh pergerakan nasional yang berpengaruh di Indonesia. Lahir pada 16 Agustus 1882 di Desa Bakur, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Tjokroaminoto berasal dari keluarga ningrat dan keturunan ulama. Setelah menyelesaikan studi di OSVIA Magelang pada 1902, ia awalnya memilih karier pegawai pemerintah.

Setelah menikah dengan R.A. Soeharsikin, Tjokroaminoto bekerja sebagai juru tulis di Ngawi, namun meninggalkan pekerjaannya karena ketidakpuasan dan ketidaksepahaman dengan mertuanya. Setelah melakukan perjalanan spiritual dengan mengunjungi Pondok Pesantren dan masjid, ia pindah ke Semarang, menjalani kehidupan sederhana dengan pekerjaan serabutan. Melanjutkan pendidikan di BAS Surabaya, ia lulus pada 1910, aktif berorganisasi, dan menulis di media massa.

Kemasyhuran Tjokroaminoto sebagai pemikir ulung menarik tokoh-tokoh untuk berdiskusi di rumahnya di Peneleh Surabaya. Pada 1912, ia bergabung dengan SDI yang berkembang menjadi Sarekat Islam dan kemudian PSII pada 1930. Meski dihadapkan pada dinamika internal dan perseteruan dengan kelompok kiri seperti Syarikat Islam Merah yang kemudian bergabung dengan PKI, Tjokroaminoto tetap mempertahankan kepemimpinannya. Sebagai respons terhadap dinamika tersebut, ia menulis buku tentang Sosialisme dalam Agama Islam.

Definisi Sosialisme

Sosialisme adalah sistem di mana semua sumber daya alam dan alat produksi dibagi dan perekonomian dijalankan secara kolektif. Dalam konsep sosialisme, prinsip utamanya adalah setiap orang mempunyai hak yang sama atas upah atau hasil bisnis yang sama. Oleh karena itu, pemerintah juga mengontrol berfungsinya perekonomian. Dengan kata lain, definisi tersebut menunjukkan bahwa sosialisme melibatkan pengawasan pemerintah yang terpusat terhadap transaksi dan pasar.

Konsep Sosialisme Islam H.O.S Tjokroaminoto

HOS. Tjokroaminoto, dalam menjelaskan arti sosialisme, tidak menyampaikan pendapat pribadinya, melainkan merujuk pada bahasa Yunani atau bahasa Latin. Baginya, sosialisme berasal dari akar kata “socius,” yang diterjemahkan ke beberapa bahasa dengan makna yang sama seperti “teman.” Meskipun variasi definisi sosialisme ada, tujuannya selalu konsisten: melindungi kepentingan masyarakat dan mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Tjokroaminoto mengecam kurangnya sosialisme yang berakar dari nilai-nilai agama, khususnya di Barat, yang cenderung menafikan spiritualitas dan lebih condong pada materialisme. Meskipun menyatakan kekecewaan terhadap hal tersebut, ia tidak menolaknya secara langsung.

Tjokroaminoto melihat materialisme Marx sebagai kelemahan, namun tidak menolaknya. Sebaliknya, ia melihat peluang bagi sosialisme berbasis spiritualisme Islam untuk bersinergi dengan konteks keilmuan modern. Dengan demikian, ia mencoba menggabungkan nilai-nilai sosialisme dengan ajaran Islam untuk menciptakan konsep sosialisme yang sesuai dengan budaya dan konteks Indonesia.

Dasar Sosialisme Islam H.O.S Tjokroaminoto

H.O.S Tjokroaminoto menyatakan bukti bahwa Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW pun memiliki dasar-dasar sosialisme. Tjokroaminoto menyatakan dasar sosialisme berdasarkan Islam. Dasar yang bersumber dari Islam tersebut ditemukan di beberapa ayat-ayat kitab suci al-Qur’an, yang yang didalam praktik keagamaannya, tidak disadari mencerminkan prilaku sosialis. Beberapa ayat yang dikutip oleh Tjokroaminoto sebagai dasar dari sosialisme, seperti bagian awal ayat 213 dari al-Baqarah yang memiliki arti: ”Manusia itu adalah umat yang satu”. Potongan ayat tersebut menunjukkan persaudaraan atau persatuan antar sesama manusia, namun perlu dicatat bahwa dalam konteks tafsirnya, persatuan ini terkait dengan iman dan hanya berlaku untuk umat Islam. Meskipun demikian, HOS. Cokroaminoto berpendapat bahwa dengan landasan agama Islam, sosialisme yang mengedepankan nilai-nilai persatuan dapat terwujud di antara umat manusia.

HOS. Cokroaminoto juga mengutip potongan ayat ke-13 Surat al-Hujurat yang artinya: ”Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa”. Potongan ayat tersebut menurutnya menunjukkan kesetaraan antar umat manusia. Bagi HOS. Tjokroaminoto, keturunan, suku, atau bangsa seseorang tidak memiliki arti di hadapan Allah SWT. Menurut pandangan Allah, kemuliaan seorang manusia ditentukan oleh sembah baktinya kepada Allah. Kesetaraan ini dianggap sebagai landasan untuk memudahkan terwujudnya persatuan antar umat, yang menjadi cita-cita sosialisme.

Selain dua ayat sebelumnya, ada satu praktik keagamaan dalam Islam yang mencerminkan corak sosialisme, yaitu ibadah haji. Dalam pelaksanaan ibadah haji, semua umat Islam, tanpa memandang latar belakang keluarga, status sosial, atau asal bangsa, mengenakan pakaian yang seragam. Hal ini menciptakan kesetaraan di antara mereka, sehingga tidak terlihat perbedaan antara majikan dan bawahan saat melaksanakan ibadah haji.

Keruntuhan 3 kerajaan Islam terbesar seperti safawiyah, Mughol, dan yang terakhir Turki Utsmanni, menyebabkan praktek kolonialisme di dunia semakin besar dan kemunduran bagi Islam. Cukup untuk membuat drajat umat Islam turun di mata dunia. Bangsa yang telah dijajah dengan hilangnya hak-hak Politik-Ekonomi secara independen dalam mengurusi negaranya sendiri. Karena perbudakan, adu domba, pembodohan dan tekanan militer. Wajar saja jika tercipta bangsa yang pesimis dan lambat laun akan semakin lemah dan tidak berdaya. Sehingga menyebabkan umat islam dan bangsa nusantara untuk melawan penjajahan, hanya bisa pasra dengan nasib, untuk bisa memenuhi kebutuhan saja sudah bersyukur.

Kesimpulannya, H.O.S Tjokroaminoto mengembangkan konsep Sosialisme Islam dengan merujuk pada nilai-nilai agama Islam, terutama ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan persaudaraan, kesetaraan, dan praktik keagamaan yang mencerminkan corak sosialisme. Dalam konteks Indonesia yang tengah dijajah dan mengalami kemunduran, Tjokroaminoto melihat Sosialisme Islam sebagai solusi untuk melawan penjajahan dan mengatasi ketidaksetaraan ekonomi serta kemunduran sosial. Konsep ini tidak menolak nilai-nilai sosialisme secara umum, tetapi mencoba menggabungkannya dengan ajaran Islam agar sesuai dengan budaya dan nilai-nilai lokal. Sosialisme Islam Tjokroaminoto menjunjung tinggi keadilan sosial, persatuan, dan kesejahteraan umat manusia dengan landasan nilai agama.

Daftar Pustaka :

Mahardi, Didin Putra. (2020). ”Pemikiran Ekonomi Sosialis Haji Oemar Said Cokroaminoto”. (Tesis Magister, Program Studi Ekonomi Syariah, IAIN Ponorogo)

Abidin, Jaenal. (2019). “Konsep sosialisme islam h.o.s tjokroaminoto”. (Skripsi Sarjana, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Manan, Firman. (2016). ”Sosialisme Islam: Perspektif Pemikiran Politik H.O.S. Tjokroaminoto”. Jurnal Wacana Politik – Jurnal Ilmiah Departemen Ilmu Politik, Vol. 1, No. 1.

Bahtiyar, E., & M. Mu’inudinillah Basri, dan S. H. (2015). ”Kritik Islam Terhadap Konsep Marxisme tentang Pengentasan Kemiskinan”. Profetika, Jurnal Studi Islam, Vol. 16, No. 2.