PCINU Taiwan Adakan Safari Ramadhan, KH Ma’ruf Khozin Hadir Mengisi Materi

PCINU Taiwan Adakan Safari Ramadhan, KH Ma’ruf Khozin Hadir Mengisi Materi

GUE JABAR | ISTIMEWA – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan Ranting Taichung menggelar kegiatan safari ramadhan dengan menghadirkan Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin sebagai narasumber yang membahas mengenai Daurah (Hujjah) ahlussunah Wal jamaah bertempat di Sekretriat PCI NU Ranting Taichung pada Senin, (3/4).

Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 waktu Taiwan tersebut di ikuti seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama diwilayah kota Taichung dan sekitarnya.

Pengasuh pondok pesantren Raudlatul Ulum Suramadu tersebut selama berada di taiwan memberikan materi dibeberapa kota seperti Taipei, Keelung, Kaohsiung, Chiayi, Taichung, Changhua, Dongkang dan Hualien.

“Saya sangat senang di setiap pertemuan dengan warga NU yang ada di Taiwan. Dari tiap pertanyaan yang disampaikan, setidaknya, menunjukkan bahwa mereka masih tetap menjalankan ibadah namun menemukan beberapa kendala baik secara fikih, keadaan lingkungan dan sebagainya” ujarnya

Beberapa permasalahan dapat tuntas terjawab. Kalau saya identifikasi solusi atas permasalahan fikihnya mengenai batas kemampuan manusia yang ditolerir oleh syariat. Umumnya berkaitan dengan najis. Karena di sini banyak ditemukan masakan atau hewan hidup yang dalam pandangan fikih dinilai sebagai najis Mughalladzah, dan tidak ada kemampuan untuk menghindari, disebabkan tugas memasak atau merawat binatang tersebut.

Jika hanya belajar bab najis saja maka akan terasa berat. Beruntung di kitab Fikih juga dijelaskan Ma’fu Anhu, yakni keadaan najis yang ditolerir oleh Agama. Para ulama kita mendasarkan pada dalil:

ﻗﺎﻟﺖ ﺧﻮﻟﺔ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ, ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺬﻫﺐ اﻟﺪﻡ? ﻗﺎﻝ: «ﻳﻜﻔﻴﻚ اﻟﻤﺎء, ﻭﻻ ﻳﻀﺮﻙ ﺃﺛﺮﻩ».

Khaulah berkata: “Wahai Nabi, bagaimana jika di pakaian kami yang terkena darah, ternyata darahnya tidak hilang?” Nabi menjawab: “Cukup kamu basuh dengan air. Jika masih ada bekasnya maka tidak apa-apa” (HR Abu Dawud)

Alumni Pondok Pesantren Ploso tersebut juga memberikan apresiasi kepada PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang menikah dengan lelaki Taiwan yang bernama Muhammad Lai yang memiliki nama Taiwan Lai Hui Hong yang resmi menjadi anggota NU Taiwan.

“Di Taiwan ada ratusan Banser sudah biasa. Ini beda. Warga asli Pulau Formosa ini sudah mengikuti Diklatsar Banser juga” tulisnya dilansir dari halaman facebook miliknya

Selanjutnya Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur tersebut juga memberikan apresiasi kepada para PMI yang ada di kota Taichung terkait dengan pendirian mushola dan pelestarian ajaran ahlussunah wal jamaah di tanah perantauan.

“Mencari rezeki di rantau juga banyak. Tapi yang berjuang mendirikan Mushola dan menyebarkan Islam Ahlissunnah dengan menyewa gedung 4 lantai di pusat kota dekat stasiun hanya ditemukan di sini yakni NU Ranting Taichung Taiwan” pangkasnya.

(Novian)