Jalankan Ekononi Kreatif, Usaha Piring Lidi Di Ciamis Bisa Menjadi Contoh

Jalankan Ekononi Kreatif, Usaha Piring Lidi Di Ciamis Bisa Menjadi Contoh

GUE JABAR | KABUPATEN CIANIS – Potensi ekonomi kreatif memang selalu menjadi pasar yang menggiurkan dan menguntungkan. Hak itu semakin jelas ketika potensi sumber daya alam yang ada juga dapat menopang produksi ekonomi kreatif. Pertumbuhan ekonomi kreatif saat ini memang sedang gencarnya dikembangkan oleh pemerintah. Hal itu demi terciptanya berbagai lapangan usaha baru yang bermanfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional pada umumnya. Dengan ekonomi kreatif, produksi terkait barang dan jasa mampu dihasilkan dengan modal yang tergolong sedikit tapi omset yang terbilang cukup besar.

Salah satu contoh pengaplikasian ekonomi kreatif dapat kita temukan di desa Karang Anyar, Kec. Cijengjing, Kab. Ciamis, Jawa Barat. UMKM berbasis ekonomi kreatif disana sudah mulai perlahan dijalankan oleh warganya. Desa Karanganyar sendiri terletak di Kec. Cijengjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Desa tersebut memiliki 5 dusun, yakni Bandaruka, Cililitan, Desa, Galonggong dan Kadugede.

Produk ekonomi kreatif yang ada dan paling menonjol di desa tersebut ialah kerajinan seni kriya. Seni kriya disini menggunakan daun kelapa sebagai salah satu bahan utama. Seni kriya anyam merujuk pada seni membuat kerajinan tangan menggunakan bambu, ataupun lidi yang di anyam. Tersedianya Sumber daya alam yang ada berupa bambu dan sebagainya ditambah terbinanya warga dengan baik untuk pemanfaatan sumber daya tersebut menjadikan ekonomi kreatif berbasis seni kriya dan kerajinan tangan dapat berkembang.

Salah satu UMKM yang dikembangkan berbasis ekonomi kreatif melalui seni kriya dijalankan oleh Ibu Dede yang beralamat di Dusun Desa, RT 02 RW 01, Desa Karanganyar. Ibu Dede menjalankan usaha nya tersebut dengan memproduksi piring lidi. Piring lidi menggunakan bahan dasar lidi yang terbuat dari daun kelapa.

Usahanya tersebut menurut keterangannya telah dijalankan sejak 2019 yang lalu. Piring lidi yang diproduksi biasanya dihargai pada harga Rp. 3000,-. Menurut Ibu Dede, usahanya sendiri bisa memproduksi sampai 100 pics piring lidi perhari. Jumlah produksi nya sendiri biasanya mengikuti jumlah pesanan yang hadir di UMKM miliknya.

” Saya menjalankan usaha piring lidi ini dari 2019, berarti udah 3 tahun lebih kalau sampai saat ini”, ucap Dede. “Untuk produksi harian tuh yah kita mah fleksibel aja, pernah juga tembus sehari sampai 100 picis piring, gimana pesanan sih biasanya”, tambahnya.

Usaha seni kriya yang dijalankan Ibu Dede tersebut menurutnya tercetus berawal dari kegiatan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan dilanjutkan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang ada. Hingga saat ini, usaha piring lidi nya tersebut terus dijalankan oleh Ibu Dede sendiri.

(Novian)